RSS

Monthly Archives: April 2012

Kebersamaan

Kita

Kita datang memenuhi panggilan

Atas kegelisahan dan kebingungan

Tentang anak-anak Indonesia dan pendidikan

Dalam tawa dan canda

Tutur dan sapa

Mata dan kata

Arti dan makna

Kita ada

30 laskar pilihan

Menjadi guru berkarakter dan bertaqwa

Cerdas inspiratif dan amanah

Demi Indonesia tercinta

Kita ada

it’s dedicated to SGI II

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on April 8, 2012 in Meine Liebe

 

Omonganmu berpengaruh tahu..,

Kelemahan diriku adalah mengakui bahwa aku butuh sosok yang bisa menemaniku. Terkadang aku harus menyibukkan diri dalam kelompok tertentu untuk menutupi kelemahan. Dan ketika tahu kesibukanku akan berakhir dalam kelompok tersebut maka aku akan mencari kelompok yang lain.

Sulit rasanya meninggalkan hal-hal yang sudah menjadi rutinitasku, termasuk ke 29 laskar pilihan yang telah memberi warna dalam kehidupan. Dan apakah aku harus berpindah dari satu kelompok ke kelompok yang lain.

Aku menjadi merasa sendiri diantara kalian, sulit kubayangkan, tapi aku merasa sendiri. Aku mencoba menghibur diriku dengan segala kelakuanku. Rasa itu bernama kehilangan. Aku harus melewati masa itu, yang kembali harus kehilangan dan berpisah.

Dalam pencarian jati diri, aku bertekad menaklukan emosi tapi bukan emosi yang menaklukanku. Dan kebahagianku adalah bersama kalian tapi bukan karena kalian aku bahagia.

Maka ketika kau berkata, “omonganmu berpengaruh tahu..,”. Dan aku berkata pada diriku, aku harus membenahi diri dan membersihkan hati. Seringkali aku menemukan tanda-tanda untuk menjadi salah satu kekasihmu, aku sebenarnya iri dengan itu, andai itu aku. Tapi dengan 33 buah biji tasbih yang diberikan kepadaku, semakin aku sadar untuk menjadi kekasihmu maka aku kembali ke niat untuk mencapai tujuanku.

Aku ingin membangun cinta, yang dimulai dengan komitmen dalam hidup, bergairah dalam aktivitas dan intim dalam menciptakan suasana yang menyenangkan. Aku merasa sendiri diantara kalian, karena yang kuinginkan adalah membangun cinta dan pondasi itu adalah kalian serta diriku adalah pemiliknya. Maka apakah kalian membangun cinta untukku, serta menemaniku dalam kehilangan. Maka wajarlah aku menjadi merasa sendiri diantara kalian.

Disiapkan di parung, 9 Pebruari 2011

Tuan pusriza

 
Leave a comment

Posted by on April 8, 2012 in Meine Liebe

 

Mau jadi Guru

“Coba-coba aja ngelamar di bank dulu teh, siapa tau diterima. Gajinya kan gede. Ntar mamah mau bikinin dede rekening biar bisa minta kiriman ke teteh” Celoteh ibu ku sambil tersenyum tanda ia bergurau. Tapi sungguh dibalik gurauan itu justru aku menangkap sekilas raut wajahnya, wajah penuh harapan.

“Masa sarjana pendidikan kerja di Bank mah, ga nyambung ah” Ku tepis candaan itu dengan jawaban sekenanya.

“ya kan ga menutup kemungkinan teh, orang anaknya Bu Yuyun aja lulusan IPB tapi kerjanya di BNI. Padahal kan jurusannya perikanan, lebih ga nyambung mana hayo..” Bantah ibuku tak mau kalah.

“Tapi kan sayang ilmunya mah” kataku

“Iya mamah tau, tapi apa ga sayang juga tuh dapet kuliah cape-cape cuma berakhir jadi guru honorer yang gajinya ga seberapa?” Tersekat rasanya tenggorokan ini mendengar jawaban itu.

Dalam hati aku bertanya “Jika persoalannya jadi guru gajinya kecil kenapa waktu itu mamah setuju aku masuk fakultas keguruan?” Tapi tetap saja pertanyaan itu tak berani ku ungkapkan. Biarlah itu menjadi bahan intropeksi diri.

Tak bisa ku tampik semua yang ibuku katakan. Gaji guru honorer memang tak seberapa saat ini, apalagi di daerahku yang notabene hanya sebuah desa yang baru berkembang menjadi kecamatan.

Aku jadi teringat akan kisah tetanggaku. Ia adalah seorang guru honorer Madrasah Ibtidaiyah yang menurutku cukup loyal terhadap pekerjaannya. Pak Yusuf, seorang bapak berbadan tegap berusia sekitar 40 tahun itu selalu terlihat bersemangat setip hari. Padahal tak ku dapat satupun alasan darinya yang bisa membuatnya begitu bersemangat.

Hampir 20 tahun pria yang memiliki 3 orang anak ini mengabdi di sekolah yang sama. Dan sejak itulah ia selalu menunjukkan totalitas pada profesinya. Mengajar di sebuah sekolah yang tidak terlalu terkenal di daerahku, dengan kondisi fasilitas dan jumlah murid terbatas, swasta pula. Sepertinya dapat ku tebak gajinya dalam sebulan, mungkin lima ratus ribu pun tak akan sampai. Tak sebanding dengan pengorbanannya. Ditambah ia harus membiayai keluarganya.

Sungguh miris membayangkannya. Ditengah keadaan yang semuanya serba mahal, kurasa gajinya tak akan bisa memenuhi semua kebutuhannya sampai waktu gajian berikutnya datang. Kupikir bapak berjanggut ini memiliki kerja sambilan, tapi ternyata tidak. Subhanallah.. sungguh sosok guru yang patut dijadikan teladan. Ditengah situasi seperti ini – guru-guru lain sibuk mengepakkan sayapnya dari satu sekolah ke sekolah lain demi mencari tambahan – ia tetap istiqomah mengabdi di sekolah yang tak banyak memberikannya kesejahteraan hidup.

Pernah suatu ketika – seingatku saat itu baru menginjak semester kedua di bangku perkuliahan – aku bertemu dengannya disebuah angkutan umum berwarna biru yang selalu setia mengantarku ke kampus hijau jika kendaraan roda duaku sedang bermasalah.

Saat itu adalah saat-saat yang tak akan pernah kulupakan. Aku duduk tepat dihadapannya. Ku lihat dengan jelas sosok bapak berkacamata yang dikedua sudut matanya telah berkeriput menyunggingkan senyum tulusnya padaku. Spontan ku balas dengan hal yang sama. Terlontar kalimat pertama yang mengawali percakapan kami.

“Berangkat ngajar pa?” tanyaku basa-basi.

“iya neng, pasti mau kuliah ya? kok ga bawa motor?” tanyanya.

“Motornya lagi sakit pa, hehe..” jawabku.

Setelah itu percakapan kami mengalir seperti air. Satu pertanyaan darinya yang membuatku bak terbangun dari tidur panjang.

“Tujuan kuliah buat apa neng?” Tanpa pikir panjang ku jawab saja

“buat cari kerja yang lebih baik pa”. Dia tersenyum mendengar jawabanku. Kurasa tak ada yang salah dengan jawaban itu. Toh memang itu kenyataannya. Tanpa bersikap menghakimi lalu beliau menimpali jawabanku

“salah neng! Bukan itu jawabannya!”

trus apa dong pa?” tanyaku penasaran.

“untuk mencari ridho allah” jawabnya lugas.

Tersentak ku mendengarnya, jawaban yang sama sekali tidak terlintas dalam benakku. Seraya beristigfar aku mengamini jawabannya. Seakan tersadar dari mimpi, kata-kata itu merasuk hati. Dalam hati ku memuji “Terimakasih ya allah telah kau kirim orang baik untuk menyadarkanku”.

Mulai saat itu aku tahu alasan yang membuatnya selalu tersenyum, masalah seberat apapun kurasa tak kan berarti baginya, karena kuncinya adalah ikhlas. Sebuah kata kunci yang mudah dikatakan namun sulit dilakukan. Ikhlas menjembatani ia untuk mencari ridho Allah, sungguh tujuan yang mulia.

Terinspirasi oleh kesederhanaan dan kesahajaannya, membuatku memindahkan beberapa derajat sudut pandangku dari aslinya. Bukan materi yang harus ku cari, tapi ridho allah swt, yang karena-Nya aku ada.

Tibalah disebuah tempat yang awalnya asing bagiku. Terdapat 30 orang dari daerah yang berbeda berkumpul ditempat yang sama. Para sarjana muda berbakat berusaha mewujudkan impiannya. Menyamakan visi dan misi untuk menjadi pejuang pendidikan. Agak terdengar nekat memang. Berasal dari latar belakang pendidikan yang berbeda dan lulusan dari Universitas ternama, kurasa mereka mampu mencari pekerjaan yang sesuai. Namun sekali lagi kekagumanku seakan tak ada hentinya. Aku saja yang notabene berasal dari pendidikan masih merasa belum mempunyai cukup modal pengetahuan untuk terjun ke dunia pendidikan. Tapi semangat mereka menepis rasa itu. Mereka saja bisa kenapa aku tidak?!

Tempat itu bernama Lembaga Pengembangan Insani. Dari namanya saja sudah dapat kubayangkan orang-orang seperti apa yang akan kuhadapi. Dengan harapan akan ada perubahan yang lebih baik, seraya mengucap bissmillah ku pijakan kakiku di tempat yang penuh tantangan ini. Berlokasi tidak terlalu jauh dari daerah tempat tinggalku, hanya membutuhkan waktu sekitar 1 ½ jam. Memang jarak yang tidak seberapa dan dianggap sepele oleh orang lain karena tak sebanding dengan jarak yang harus di tempuh oleh ke 29 teman yang lain. Tapi ini sesuatu yang luar biasa bagiku. Penuh perjuangan untuk bisa datang ke tempat ini. Besar harapanku jiwa keguruanku akan muncul disini. Bukan sekedar menjadi guru biasa namun guru berkarakter. Akan kubuktikan pada mereka bahwa kebahagiaan tidak hanya dapat diukur dengan kekayaan namun kebahagiaan dapat kita raih disaat kita berhasil menjadi apa yang kita inginkan. Semoga perjalanan ini penuh rahmat dan ridho-nya. Amien..

 
Leave a comment

Posted by on April 8, 2012 in My Life My adventure

 

Kangen

Cuma satu kata itu yang bisa mewakili perasaanku saat ini. Seandainya mamah tahu seberapa besar cinta kasihku untukmu kau pasti takkan pernah rela untuk membiarkanku pergi. Aku memang terlihat egois dan memaksakan kehendak waktu itu. Mungkin mamah berpikir aku tidak peduli. Tapi sungguh bukan itu maksudku. Justru karena kepedulian itu aku ada disini. Aku ingin kau memberikan kepercayaanmu padaku. Karena Cuma itu yang aku butuhkan. Kepercayaan yang selama ini tak aku dapat darimu karena kau selalu menganggapku gadis kecilmu. Terkadang bahkan aku merasa terkekang dengan peraturanmu. Tidak bisa bebas melakukan apa yang ingin ku lakukan. Izinkan aku tuk membuktikan bahwa aku bisa mah. Aku ingin menunjukkan pada semua bahwa aku bisa berpijak di atas kaki ku sendiri. Bukan ingin menolak semua bantuanmu, tapi aku hanya ingin merasa bertanggungjawab atas hidupku. Karena aku punya hak untuk itu, ya kan mah?! Perjodohan bukanlah hal yang ku inginkan dari dulu. Aku belum siap mah. Aku tak ingin menghabiskan sisa hidupku bersama orang yang tidak aku kenal sebelumnya. Jangankan sifat atau wataknya, rupa wajahnya pun aku tak tahu. Dan satu hal yang membuat aku menolak mentah-mentah hal itu, mamah tahu itu apa? Perasaan terkekang. Dari dulu aku selalu mengikuti apa mau mu. Dari mulai sekolah, kuliah bahkan hal kecil seperti pakaianpun kau atur. Awalnya aku merasa itu baik untukku. Kau melakukan itu karena kau sayang padaku. Tapi lama-lama aku merasa kehilangan jati diri ku. Dan aku ingin mencari itu. Jati diriku yang hilang terenggut oleh semua aturanmu. Masalah pernikahan mamah harus yakin Allah sudah punya rencana buatku. Aku ingin menikah dengan laki-laki pilihanku. Karena hanya aku yang tahu mana yang terbaik untukku. Tapi tidak untuk saat ini. Semua pasti akan indah pada waktunya mah. Saat ini fokusku hanya satu. Ingin mewujudkan cita-citaku. Melibatkan diriku dalam dunia pendidikan yang sebenarnya. Aku ingin menjdi orang yang dibutuhkan mah. Aku ingin mengembangkan potensi diriku. Aku ingin menolong banyak orang. Mamah tahu, saat ini aku berada di antara orang-orang yang luar biasa. Mereka datang jauh-jauh dengan tujuan yang sama denganku. Jadi aku tak sendiri disini mah. Aku banyak belajar dari mereka. Semangat, keberanian dan pengalaman hidup mereka membuatku banyak belajar disini. Jujur baru kali ini aku merasa bebas mah. Bukan berarti aku tak suka ada disampingmu. Dimanapun aku, kuyakin kau pasti tak henti-henti mengirimkan doa mu untukku. Begitu juga aku mah. Setiap waktu ku kirim doa untukmu. Aku sayang mamah. Sangat sayang. Salam peluk dan cium untukmu.

 
Leave a comment

Posted by on April 8, 2012 in My Life My adventure

 

Kinestetik

“Kinestetik.. “ Aku terperangah ketika bu Dina, sang narasumber kala itu membuyarkan lamunanku. Sudah jelas ia pasti tahu apa yang dikatakannya saat itu. Ia adalah salah satu trainner LPI yang berlatar pendidikan psikologi. Ia tahu betul hanya aku yang tidak hadir bersamanya. Maksudku bukan jasmani tapi rohani. Bukan wujud tapi jiwa. Ya.. aku memang berada di antara mereka hari itu, tapi jiwaku berada di tempat lain. Imajinasiku semakin lama semakin liar. Tak bisa ku tahan lagi. Dengan asyiknya aku masuk dalam dunia khayalku. Penuh warna. Sangat menyenangkan berada disana. Tapi kesenanganku harus berakhir. Hanya dengan satu kata saja, dunia maya yang kuciptakan dengan susah payah itu sirna. Sesaat ku terperangah melihat sosok wanita berpakaian rapi, baju biru, rok hitam, dan kerudung berwarna gelap, terlihat sangat kontras dengan wajahnya yang putih bersih. Bak seorang polwan, ia menodongku dengan sebuah pertanyaan. Sebuah pertanyaan sederhana bagi mereka yang memang memperhatikan dari awal. Tapi tidak berlaku buatku. Jangankan memperhatikan, mendengarkan saja aku tidak. Jadi bagaimana aku bisa menjawab. Semua mata tertuju padaku saat itu. Harga diriku dipertaruhkan. Aku terdiam sejenak lalu mencoba menjawab sebisaku. Itupun sudah pasti salah. Mati aku. Tapi untungnya Bu Dina tahu apa yang seharusnya ia lakukan saat itu. Dengan tidak menyalahkan jawabanku, bu Dina langsung memberitahuku bahwa tipe belajarku kinestetik. Tanpa diberitahu pun aku sudah tahu. Tapi apakah bu Dina tahu aku tidak memperhatikan apa yang ia jelaskan karena cara mengajarnya. Aku paling tidak suka guruku, siapapun itu, mengajar dengan metode ceramah. Sangat membosankan. Dengan gaya belajarku yang seperti ini, aku harus pintar-pintar mengatur strategi. Sulit memang. Tapi satu hal yang kupelajari dari kekuranganku. Kelak jika menjadi guru, Metode ceramah adalah metode terakhir yang akan kupilih jika memang sudah tidak ada metode lain yang sesuai. Semoga kita menjadi guru yang kreatif. Amien.. hamasah!!

 
Leave a comment

Posted by on April 8, 2012 in Meine Liebe

 

My Dude’s assignment

Dear friend,

How is your life doing? I hope you will always be fine there. By the way, where are you going this weekend? Do you have a plan? Actually if you don’t have a plan, I want you to come with me to my parents’ house in Bogor. If you don’t mind, I want to introduce you with my family there. What do you think about that? Don’t worry it will be nice weekend for sure.

I have waited for long time to spend my weekend in Bogor. It has been so long time I don’t go there. I miss my lovely family so much. I want to see them for sure. Well let me tell you about my parents today. Do you know how much I miss them? They are always in my mind. Even I can imagine their physical shape as well.

My mother with her chubby cheeks always smiles at me. Her big eyes are very nice, round and brown. I like to see her big eyes when she laughs because they will be narrow like Japanese eyes. She will try to untidy my hair though she is shorter than me when I don’t tidy my bed before going to school. I miss to hug her fat body. It makes me feel warm and happy. As a moslem, my mother always wears her veil. I miss to see her with her favorite brown veil. She is really beautiful.

I miss my father as well. His strong tall body always carries me on his back when I was little kid. I like to pinch his pointed nose when I want to play with him. Actually my father also has beautiful eyes like my mother, but he has to wear his glasses everyday because he has trouble with his eyes since he was child. My mother always says that we are like twins. Straight short hair with oval face and beauty spot on our stomachs are the similarity. He is the most handsome father for me.

My parents are the best ever parents in the world. I love them so much. My biggest ambition is I want to make them be proud of having a son like me. I want to make them happy. Hmm.. I don’t know how much I miss them. I can’t wait to see them.. I hope you can join with me. I am sure you will enjoy there because I have a large garden with a lot of fruits and a big fish pond. We can spend our time by fishing there. I want you to reply this letter as soon as possible so I can tell you where we should meet. Don’t try to refuse it OK! This is a good opportunity to miss. See you.

Your friend,

Dude

 
Leave a comment

Posted by on April 8, 2012 in English is fun

 

Sudah Efektifkah Sertifikasi Guru?

Dapatkah anda memutar kembali ingatan di masa-masa sekolah Anda? Siapakah guru yang menjadi idola Anda? Mungkin anda hanya akan menyebutkan satu, dua atau tiga orang guru yang paling anda idolakan. Pertanyaan selanjutnya adalah seperti apakah sosok mereka dimata Anda? Berkarakter, baik, menyenangkan, pintar, ramah, mudah dimengerti dalam memberikan materi, penuh semangat, dll. Pasti salah satu sifat yang disebutkan adalah sifat yang dimiliki oleh sosok guru idola Anda. Tapi apakah anda pernah terpikirkan mengapa guru yang Anda idolakan hanya dalam jumlah yang sedikit atau dalam hitungan jari? Mengapa tidak semua guru yang mengajari Anda yang  Anda idolakan? Bisakah Anda memberikan alasannya? Jika pertanyaan itu diajukan pada saya maka satu-satunya jawaban yang akan saya berikan adalah karena seseorang yang menjadi idola biasanya memang sedikit dan yang banyak adalah jumlah penggemarnya. Haha.. nyeleneh sekali ya. Tapi memang seperti itu kenyataannya. Hanya orang-orang yang berkarakter saja yang dijadikan idola, dan bagi mereka yang biasa saja hanya bisa mengagumi tanpa memiliki kemampuan untuk dikagumi. Dan guru yang anda idolakan adalah pasti termasuk guru yang berkarakter sehingga sosoknya dapat selalu anda kenang.

Lalu mengapa hanya segelintir guru saja yang memiliki karakter? Coba Anda bayangkan betapa berkualitasnya sekolah Anda jika semua pengajar adalah orang-orang yang berkarakter dan berkualitas. Maka sudah tidak diragukan lagi sekolah tersebut akan menciptakan siswa-siswa yang unggul. Pernahkah anda terpikir untuk mencari jawabannya?

Saat ini, guru yang berkualitas memang sudah menjadi tuntutan. Walaupun kualitas disini masih belum jelas takarannya karena masih banyak guru yang memang dengan berbagai alasan hanya memposisikan dirinya sebagai pengajar bukan pendidik. Padahal orientasi yang dimiliki keduanya sangatlah berbeda. Pengajar adalah orang yang hanya sebatas mengajari sebuah ilmu, setelah selesai ya sudah, ditinggal saja. Entah mau mengerti atau tidak. Sedangkan pendidik adalah orang yang melakukan perbaikan mental, moral dan akhlak.

Terbatasnya jumlah guru yang berkualitas memang menjadi masalah besar di negeri kita sendiri dan salah satu alasan yang paling sensitif yaitu mengenai kesejahteraan guru. Untuk mengejar kesejahteraan, banyak sekali tenaga pengajar di negeri ini mencari pekerjaan sampingan hanya karena gaji mereka tidak mencukupi kebutuhan mereka. Kebanyakan dari mereka menjadi “Guru Terbang” yang kerjanya menclak-menclok dari satu sekolah ke sekolah lain. Lebih parahnya lagi bahkan ada guru yang sampai rela menjadi pemungut sampah hanya demi mencukupi kebutuhan hidupnya. Lalu apakah menurut anda mereka akan maksimal melakukan kewajiban sebagai guru jika kebutuhan hidup mereka saja tidak terpenuhi? Masalah kesejahteraan guru ini sangat brdampak pada kualitas guru dan memang harus diselesaikan segera sebelum semuanya terlambat.

Lalu, apakah ada yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi masalah ini? Untuk meningkatkan mutu pendidikan secara keseluruhan, sesuai dengan amanat UU nomor 14 tahun 2007 tentang guru dan dosen yang menetapkan kualifikasi, kompetensi, dan sertifikasi sebagai suatu kesatuan upaya pemberdayaan guru maka dibuatlah sebuah program yaitu sertifikasi guru. Sertifikasi guru sangat penting bagi dunia pendidikan karena bertujuan untuk menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai pendidik professional. Sertifikasi guru juga dapat meningkatkan proses dan hasil pembelajaran, meningkatkan kesejahteraan guru itu sendiri yang pada akhirnya bertujuan akhir untuk mewujudkan pendidikan nasional yang bermutu.

Lalu sudah efektifkah program sertifikasi guru ini? Guru yang telah sertifikasi akan mendapat tunjangan yang akan menambah penghasilan yang nantinya diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan dan meningkatkan mutu pendidikan. Akan tetapi kenapa mutu pendidikan saat ini semakin menurun? Padahal sudah jelas bahwa meningkatkan mutu pendidikan adalah tujuan dari program sertifikasi ini. Seharusnya, bagi guru yang telah lolos sertifikasi terus melakukan pengembangan keprofesiannya. Pemerintah juga harus mendukung dengan memberlakukan kebijakan pengembangan keprofesionalan guru secara berkelanjutan melalui pendidikan dan pelatihan. Termasuk melakukan monitoring, pengawasan, dan pembinaan. Tetapi pada kenyataannya, hanya segelintir guru yang memang benar-benar mengikuti prosedur sertifikasi guru dengan baik. Dikarenakan oknum-oknum guru tersebut hanya berorientasi pada materi, mereka menghalalkan segala cara untuk memenuhi syarat sertifikasi. Lalu apakah anda masih berpikir bahwa program ini efektif?

Berapa milyar uang yang harus dikeluarkan pemerintah dalam menunjang program ini setiap bulannya? Rasanya sangat tidak sebanding dengan tujuan sertifikasi pada awalnya. Bahkan sangat tidak relevan. Pada kenyataannya banyak guru yang sama sekali tidak mengindahkan lagi kata mengembangkan diri. Peningkatan kesejahteraan tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas guru itu sendiri. Banyak oknum guru yang hanya bisa menuntut hak tanpa menjalankan kewajibannya. Padahal guru yang berkualitas mencerminkan mutu pendidikan yang berkualitas pula. Jika saja program ini dilaksanakan dengan jujur dan sesuai prosedur, maka tujuan-tujuan program sertifikasi akan dapat tercapai. Namun jika program ini disalahgunakan maka bukannya mengatasi masalah namun sudah dapat dipastikan sertifikasi guru hanya akan banyak menciptakan masalah baru.

Untuk meningkatkan kualitas guru dan mutu pendidikan, sertifikasi bukanlah jalan satu-satunya. Namun yang terpenting adalah bagaimana caranya menumbuhkan kesadaran bagi guru untuk selalu meningkatkan kualitas diri, aktualisasi diri, sehingga tercipta pribadi yang unggul dan berkarakter. Seorang guru yang berkarakter dapat menelurkan beribu-ribu siswa yang berkarakter yang nantinya merekalah yang akan meneruskan perjuangan untuk menciptakan generasi yang lebih baik. Jadi marilah kita mulai dari diri sendiri untuk melakukam suatu perubahan. Berubah untuk menjadi guru yang berkualitas dan berkarakter.

***Terimakasih***

 
Leave a comment

Posted by on April 8, 2012 in seputar pendidikan