RSS

Category Archives: Uncategorized

ini Kisahku.. (^.^)

Ini Kisahku..

“Setelah selesai penempatan mau melanjutkan karir kemana?”
Hampir semua teman bertanya dengan pertanyaan yang sama begitu mengetahui masa kerjaku akan segera habis. Kembali teringat ketika tiga bulan pertama keberadaanku di daerah yang belum pernah aku kunjungi sebelumnya. Menangis ditengah malam adalah hal yang biasa dilakukan, belum bisa menerima kenyataan harus tinggal bersama keluarga asing dengan keadaan seadanya. Saat itu sungguh menyiksa. Saat dimana harus berjuang sendirian dan jauh dari keluarga. Ingin rasanya waktu cepat berlalu. Namun keadaan berubah begitu cepat, tak terasa tiga bulan terakhir justru adalah saat-saat terberat untuk meninggalkan semuanya. Seakan tak rela untuk pergi. Hati ini telah terpaut oleh senyum tulus anak-anak desa itu. Yang karena mereka semua beban terasa begitu ringan. Air mata pun tak tertahan lagi ketika hari perpisahan itu tiba. Mereka adalah bagian dari setahun perjalanan hidup yang akan selalu abadi dalam ingatan.
Kembali tersadar dari lamunan dan terngiang dengan pertanyaan yang sama berulang-ulang. Kenekatanku untuk mengambil keputusan bekerja jauh dari kota kelahiran membuat mereka bertanya-tanya akan kemanakah aku setelah ini. Tapi jujur saja, aku sendiri belum tahu jawabannya. Keinginan untuk berkelana sangatlah kuat namun dengan berbagai pertimbangan kuputuskan untuk membiarkan semuanya mengalir begitu saja. Jikapun ada kesempatan pasti tak akan kusia-siakan.
Tibalah saat itu sesi closing program Sekolah Guru Indonesia, sebuah program divisi pendidikan salah satu jejaring Dompet Dhuafa yang mengantarkanku pada dunia pengabdian yang luar biasa. Aku bersama kawan-kawan seperjuangan dari berbagai daerah dipertemukan kembali setelah satu tahun lamanya berpisah. Tumpah ruah semua cerita yang kami alami di daerah penempatan menghiasi seminggu kebersamaan kami. Ada yang memutuskan untuk kembali ke daerah asal dan tidak sedikit juga yang sudah memiliki rencana atas apa yang akan mereka lakukan selepas program berakhir. Dan aku tidak termasuk keduanya. Namun pada akhirnya, keputusan untuk tetap mengikuti alur menemukan titik terang.
Di hari terakhir sesi closing program diadakan presentasi bagi jejaring lain Dompet Dhuafa untuk mempresentasikan lowongan pekerjaan yang tersedia. Kami diberi kesempatan untuk memilih bidang pekerjaan mana yang kami minati. Saat itu satu-satunya pekerjaan yang terlintas di benak hanya kembali menjadi guru. Walaupun begitu tidak pernah terbayangkan ketika itu bahwa aku akan mengajar di sekolah jejaring Dompet Dhuafa. Ada dua sekolah lain yang ditawarkan, Smart School Al-Hamidiyah dan Semut-semut the Natural School. Sayangnya kedua-duanya adalah sekolah dasar. Karena keinginan mencoba pengalaman baru untuk mengajar di tingkat SMP atau SMA maka kedua pilihan itupun kuhiraukan. Setelah mendapatkan saran dan nasihat dari orang terdekat maka kuputuskan untuk mencoba tantangan baru dengan mengajar di sekolah Smart Ekselensia, sekolah berasrama bebas biasa yang notabene semua siswanya merupakan siswa berprestasi meski mereka berasal dari kalangan dhuafa.
Satu hal yang kupikirkan saat itu adalah dengan mengajar di sekolah ini aku bisa melanjutkan kembali pengabdian seperti ketika dipenempatan SGI. Kali ini bahkan bukan hanya siswa yang berasal dari satu daerah tapi seluruh daerah di Indonesia. Berada diantara mereka pasti serasa mengelilingi setiap daerah dengan keunikan dan ciri khas mereka. Hemm.. sangat tidak sabar untuk segera berinteraksi dengan mereka.
Namun ketidaksabaranku diuji ketika harus menunggu proses seleksi. Ahh.. pepatah yang menyatakan ‘Menunggu adalah hal yang paling menjemukan’ memang benar adanya. Sulit sekali untuk menepis rasa itu, bosan bercampur perasaan berkecamuk antara pesimis dan optimis. Memang kecil harapan saat itu ketika memikirkan belum memiliki pengalaman yang cukup dalam mengajar. Namun sekali lagi berkat dukungan dari sahabat-sahabat terbaik membuatku semakin kuat untuk menunggu hasil keputusan, dan apapun itu, itulah yang keputusan yang terbaik dari-Nya.
Dari mulai mengajukan surat lamaran, ada saja masalah yang muncul. Mengirim lamaran langsung via email HRD rupanya bukanlah tindakan yang tepat. Berhari-hari menunggu kabar panggilan ternyata setelah dikonfirmasi tak satupun email dariku yang masuk. Entah apa yang salah. Akhirnya kuputuskan untuk mencetak surat lamaranku dan memberikannya langsung. Beberapa hari berikutnya panggilan pertama untuk interview menghampiri. Perasaan takut, gelisah, dagdigdug, cemas, tidak percaya diri dan berbagai perasaan negatif pun bermunculan. Mencoba untuk menenangkan diri sambil mendengarkan lagu favoritpun tiada berguna. Sampai akhirnya hanya satu yang bisa menguatkan dan memberi semangat pada diri sendiri Lahaullawalakuwataillabillah.
Beberapa hari kemudian dengan perasaan yang tidak karuan akhirnya panggilan berikutnya untuk michroteaching pun datang. Hebatnya pemberitahuan itu sampai ditelinga tepat satu jam sebelum waktu michroteaching tiba. tentu saja paniknya saat itu luar biasa tak terkira. Antar harus menyiapkan RPP dan media serta memikirkan apa yang akan dilakukan didalam kelas nanti. Lagi-lagi hanya bisa menguatkan diri dengan bissmillah dan persiapan semaksimal mungkin dalam waktu yang terbatas.
Terbiasa bertemu dengan siswa yang heterogen jenisnya kali ini siswa yang harus kuhadapi adalah semua laki-laki. Tak henti-hentinya menghela nafas sambil merasakan keringat dingin bercucuran. Entah apa yang kulakukan saat itu. Ajaib serasa mimpi setelah itu aku tidak ingat apa-apa atas apa yang telah kulakukan dikelas tadi. Berusaha menyemangati diri sendiri sambil tersenyum riang padahal hati ini gugupnya bukan main. Penantian berikutnya ialah tes psikotest. Walaupun bukan kali pertama mengikuti test yang serupa namun tetap saja gugupnya sama. Apalagi ketika mengetahui jumlah pelamar lain yang cukup banyak. Tambah pesimis rasanya untuk dapat diterima disana. Sampai akhirnya tibalah saat-saat ujian terberat untuk menantikan keputusan akhir apakah diterima atau tidak.
Kegalauan itu semakin menjadi ketika mengetahui teman-teman yang lain sudah berhasil diterima ditempat kerja yang dituju. Dalam penantian itu, sempat terbersit keinginan untuk menyerah dan melamar pekerjaan ditempat lain. Beruntung masih ada sahabat yang menyemangati untuk tetap bersabar dan pantang menyerah. Dan akhirnya penantian itu membuahkan hasil. Senang tak terkira rasanya bisa menjadi guru di Smart Ekselensia Indonesia dan bergabung kembali dengan Dompet Dhuafa. Sebuah lembaga dimana aku memulai karir menjadi bagian dari peserta Sekolah Guru Indonesia dan kini melanjutkan perjuangan bersama siswa smart di Sekolah Smart Ekselensia Indonesia.
Hari pertama mengajar sungguh hari yang tak kan pernah bisa dilupakan. Pertama melihat mereka memang ragu apakah benar-benar mereka berasal dari kaum dhuafa karena sangat tidak terlihat dari penampilan dan gaya mereka. Namun ada satu siswa yang sangat menyita perhatianku. Anak itu tertidur disaat aku mengajar. Disaat seperti itulah ketegasanku diuji, namun susah memang jika pada dasarnya aku selalu tidak bisa tegas jika dihadapkan dengan situasi seperti ini. Aku tidak tega membangunkannya melihat tidurnya begitu pulas. Teman-teman yang mengolok-oloknya pun tak digubrisnya. Ia tetap melanjutkan tidurnya. Entah sedang bermimpi apa. Ketika selesai menjelaskan materi hari itu, kuberi anak-anak soal latihan. Kupegang bahu anak itu dan dengan kagetnya ia terperanjat bangun. Kuminta ia untuk mencuci wajahnya agar lebih segar dan tidak ngantuk lagi. Setelah kembali kusodorkan lembaran soal yang sama seperti yang aku berikan kepada teman-temannya yang lain. Sebenarnya aku ragu ia akan bisa mengerjakan soal yang kuberikan atau tidak. Bagaimana tidak selama aku menerangkan ia tertidur dan tidak tau apa yang aku jelaskan tadi. Tapi alangkah terkejutnya ketika ia dengan cepat mengerjakan semua soal yang kuberikan tanpa bertanya sama sekali. Ia justru mendahului teman-temannya yang sibuk bercanda dan bertanya ini itu karena walaupun mereka tidak tidur tapi mungkin memang tidak memperhatikan dengan baik. Dan lebih terkejutnya lagi ketika kuperiksa jawabannya benar semua. Dari situlah aku mulai berpikir bahwa anak ini memiliki gaya belajar auditori, meski ia tertidur namun telinganya tetap bisa berfungsi dengan baik.
Anak ini punya potensi, meski ia sering dicap buruk oleh teman-temannya. Ia termasuk kategori anak yang dijauhi oleh teman-temannya karena kebiasaan buruknya yang selalu tidak menjaga kebersihan diri, ia juga selalu mendapatkan hukuman atas pelanggaran-pelanggaran yang dilakukannya. Tapi disisi lain aku merasa ia kesepian, butuh sosok sahabat yang bisa diajak berbagi dengannya. Suatu hari pernah kuajak ia sharing selepas jam pelajaran berakhir. Dan ternyata ia tipe anak yang terbuka jika kita bisa menempatkan diri ketika bersamanya. Belum puas rasanya mempelajari karakternya yang unik, juga karakter anak-anak lainnya yang memang sangat beragam. Semua anak punya potensi. Dan bagaimana kita bisa memunculkan dan mengasah potensi yang ada dalam diri mereka. Mereka adalah bak kertas putih yang bisa kita warnai sesuka hati, entah itu dengan warna yang cerah atau malah gelap sekalipun. Dan kita sebagai guru yang akan mewarnainya. Tekadku dalam hati, akan kuukir prestasi dalam kehidupan mereka. Semangat berjuang, semangat menebar manfaat. Bissmillah..
***

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on October 4, 2012 in Uncategorized

 

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.
 
1 Comment

Posted by on December 21, 2011 in Uncategorized