RSS

My Small Town (Descriptive Text)

Soba is a small town in my country, Sudan. It is 15 kilometers from Khartoum, the capital of Sudan. The Nile River flows through Soba. That makes the town green and beautiful. Most of the pople in Soba works as farmers or fishermen. The Nile is very important in their lives. A small market in Soba sells food to the people who cannot go to the market in the capital.
In Soba, a small hospital and a pharmacy gives medicine to the people without money. About 50 percent of the people in Soba work in the hospital. The youth club in Soba gives the youth a place to meet every night except Friday.
Friday is a holy day in Soba, so the people go to the mosque, and they say their prayers. The people in Soba love their town. They are very happy because Soba is crowded with beautiful things.

(Adapted from Basic Writing)

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on February 18, 2014 in English is fun

 

My Hometown (Descriptive Text)

Alexandria is the second biggest city in my country, Egypt, and I live in this city. It is a beautiful city, and people there are very kind and polite. Tourists like to visit my city because it is on the sea. When I walk down the Kornash, the largest street, I see the beautiful blue sea and sky, and the beautiful green grass and trees. In the spring, the flowers grow in many colors: yellow, red, and blue. The most beautiful scene is the white birds. In the winter, a very big flock of birds migrates to this place. I watch them while they skillfully fish from the sea. The birds watch the fish, and they wait patiently for a long time. When the fish come to the surface, they fly quickly and catch them. In the fall, the city looks like a very old man because the leaves of the trees fall from the trees. That is my city, and I think it is the most beautiful city in the world.

(Adapted from Basic Writing)

 
Leave a comment

Posted by on February 18, 2014 in English is fun

 

Quiz

Hi everybody.. how’s your life today? it’s good, isn’t it.

Now we are going to learn about letter. we have two activities for today.
first, you have to answer the question from
http://www.englishexercises.org/makeagame/viewgame.asp?id=643
send your answer to your English Teacher’s email address (imti_wannabe@yahoo.com). Don’t forget to fill in the subject with your full name_exercise (Example: Imtinanika Syahara_exercise)

second, you have to write a letter to your teacher. choose one of the topic below!
1. your last vacation
2. your plan for the next vacation
3. introducing yourself and your family.
4. your opinion about your school.
5. your plan to face the final exam (perhaps you can share some tips)

you should write your letter at least four paragraphs / consist of 30 – 40 sentences. Don’t forget to fill in the subject with your full name_letter. (example: Imtinanika Syahara_letter) send your letter to your teacher’s email address (imti_wannabe@yahoo.com).

Good Luck!

English Teacher

 
Leave a comment

Posted by on November 20, 2013 in English is fun

 

ini Kisahku.. (^.^)

Ini Kisahku..

“Setelah selesai penempatan mau melanjutkan karir kemana?”
Hampir semua teman bertanya dengan pertanyaan yang sama begitu mengetahui masa kerjaku akan segera habis. Kembali teringat ketika tiga bulan pertama keberadaanku di daerah yang belum pernah aku kunjungi sebelumnya. Menangis ditengah malam adalah hal yang biasa dilakukan, belum bisa menerima kenyataan harus tinggal bersama keluarga asing dengan keadaan seadanya. Saat itu sungguh menyiksa. Saat dimana harus berjuang sendirian dan jauh dari keluarga. Ingin rasanya waktu cepat berlalu. Namun keadaan berubah begitu cepat, tak terasa tiga bulan terakhir justru adalah saat-saat terberat untuk meninggalkan semuanya. Seakan tak rela untuk pergi. Hati ini telah terpaut oleh senyum tulus anak-anak desa itu. Yang karena mereka semua beban terasa begitu ringan. Air mata pun tak tertahan lagi ketika hari perpisahan itu tiba. Mereka adalah bagian dari setahun perjalanan hidup yang akan selalu abadi dalam ingatan.
Kembali tersadar dari lamunan dan terngiang dengan pertanyaan yang sama berulang-ulang. Kenekatanku untuk mengambil keputusan bekerja jauh dari kota kelahiran membuat mereka bertanya-tanya akan kemanakah aku setelah ini. Tapi jujur saja, aku sendiri belum tahu jawabannya. Keinginan untuk berkelana sangatlah kuat namun dengan berbagai pertimbangan kuputuskan untuk membiarkan semuanya mengalir begitu saja. Jikapun ada kesempatan pasti tak akan kusia-siakan.
Tibalah saat itu sesi closing program Sekolah Guru Indonesia, sebuah program divisi pendidikan salah satu jejaring Dompet Dhuafa yang mengantarkanku pada dunia pengabdian yang luar biasa. Aku bersama kawan-kawan seperjuangan dari berbagai daerah dipertemukan kembali setelah satu tahun lamanya berpisah. Tumpah ruah semua cerita yang kami alami di daerah penempatan menghiasi seminggu kebersamaan kami. Ada yang memutuskan untuk kembali ke daerah asal dan tidak sedikit juga yang sudah memiliki rencana atas apa yang akan mereka lakukan selepas program berakhir. Dan aku tidak termasuk keduanya. Namun pada akhirnya, keputusan untuk tetap mengikuti alur menemukan titik terang.
Di hari terakhir sesi closing program diadakan presentasi bagi jejaring lain Dompet Dhuafa untuk mempresentasikan lowongan pekerjaan yang tersedia. Kami diberi kesempatan untuk memilih bidang pekerjaan mana yang kami minati. Saat itu satu-satunya pekerjaan yang terlintas di benak hanya kembali menjadi guru. Walaupun begitu tidak pernah terbayangkan ketika itu bahwa aku akan mengajar di sekolah jejaring Dompet Dhuafa. Ada dua sekolah lain yang ditawarkan, Smart School Al-Hamidiyah dan Semut-semut the Natural School. Sayangnya kedua-duanya adalah sekolah dasar. Karena keinginan mencoba pengalaman baru untuk mengajar di tingkat SMP atau SMA maka kedua pilihan itupun kuhiraukan. Setelah mendapatkan saran dan nasihat dari orang terdekat maka kuputuskan untuk mencoba tantangan baru dengan mengajar di sekolah Smart Ekselensia, sekolah berasrama bebas biasa yang notabene semua siswanya merupakan siswa berprestasi meski mereka berasal dari kalangan dhuafa.
Satu hal yang kupikirkan saat itu adalah dengan mengajar di sekolah ini aku bisa melanjutkan kembali pengabdian seperti ketika dipenempatan SGI. Kali ini bahkan bukan hanya siswa yang berasal dari satu daerah tapi seluruh daerah di Indonesia. Berada diantara mereka pasti serasa mengelilingi setiap daerah dengan keunikan dan ciri khas mereka. Hemm.. sangat tidak sabar untuk segera berinteraksi dengan mereka.
Namun ketidaksabaranku diuji ketika harus menunggu proses seleksi. Ahh.. pepatah yang menyatakan ‘Menunggu adalah hal yang paling menjemukan’ memang benar adanya. Sulit sekali untuk menepis rasa itu, bosan bercampur perasaan berkecamuk antara pesimis dan optimis. Memang kecil harapan saat itu ketika memikirkan belum memiliki pengalaman yang cukup dalam mengajar. Namun sekali lagi berkat dukungan dari sahabat-sahabat terbaik membuatku semakin kuat untuk menunggu hasil keputusan, dan apapun itu, itulah yang keputusan yang terbaik dari-Nya.
Dari mulai mengajukan surat lamaran, ada saja masalah yang muncul. Mengirim lamaran langsung via email HRD rupanya bukanlah tindakan yang tepat. Berhari-hari menunggu kabar panggilan ternyata setelah dikonfirmasi tak satupun email dariku yang masuk. Entah apa yang salah. Akhirnya kuputuskan untuk mencetak surat lamaranku dan memberikannya langsung. Beberapa hari berikutnya panggilan pertama untuk interview menghampiri. Perasaan takut, gelisah, dagdigdug, cemas, tidak percaya diri dan berbagai perasaan negatif pun bermunculan. Mencoba untuk menenangkan diri sambil mendengarkan lagu favoritpun tiada berguna. Sampai akhirnya hanya satu yang bisa menguatkan dan memberi semangat pada diri sendiri Lahaullawalakuwataillabillah.
Beberapa hari kemudian dengan perasaan yang tidak karuan akhirnya panggilan berikutnya untuk michroteaching pun datang. Hebatnya pemberitahuan itu sampai ditelinga tepat satu jam sebelum waktu michroteaching tiba. tentu saja paniknya saat itu luar biasa tak terkira. Antar harus menyiapkan RPP dan media serta memikirkan apa yang akan dilakukan didalam kelas nanti. Lagi-lagi hanya bisa menguatkan diri dengan bissmillah dan persiapan semaksimal mungkin dalam waktu yang terbatas.
Terbiasa bertemu dengan siswa yang heterogen jenisnya kali ini siswa yang harus kuhadapi adalah semua laki-laki. Tak henti-hentinya menghela nafas sambil merasakan keringat dingin bercucuran. Entah apa yang kulakukan saat itu. Ajaib serasa mimpi setelah itu aku tidak ingat apa-apa atas apa yang telah kulakukan dikelas tadi. Berusaha menyemangati diri sendiri sambil tersenyum riang padahal hati ini gugupnya bukan main. Penantian berikutnya ialah tes psikotest. Walaupun bukan kali pertama mengikuti test yang serupa namun tetap saja gugupnya sama. Apalagi ketika mengetahui jumlah pelamar lain yang cukup banyak. Tambah pesimis rasanya untuk dapat diterima disana. Sampai akhirnya tibalah saat-saat ujian terberat untuk menantikan keputusan akhir apakah diterima atau tidak.
Kegalauan itu semakin menjadi ketika mengetahui teman-teman yang lain sudah berhasil diterima ditempat kerja yang dituju. Dalam penantian itu, sempat terbersit keinginan untuk menyerah dan melamar pekerjaan ditempat lain. Beruntung masih ada sahabat yang menyemangati untuk tetap bersabar dan pantang menyerah. Dan akhirnya penantian itu membuahkan hasil. Senang tak terkira rasanya bisa menjadi guru di Smart Ekselensia Indonesia dan bergabung kembali dengan Dompet Dhuafa. Sebuah lembaga dimana aku memulai karir menjadi bagian dari peserta Sekolah Guru Indonesia dan kini melanjutkan perjuangan bersama siswa smart di Sekolah Smart Ekselensia Indonesia.
Hari pertama mengajar sungguh hari yang tak kan pernah bisa dilupakan. Pertama melihat mereka memang ragu apakah benar-benar mereka berasal dari kaum dhuafa karena sangat tidak terlihat dari penampilan dan gaya mereka. Namun ada satu siswa yang sangat menyita perhatianku. Anak itu tertidur disaat aku mengajar. Disaat seperti itulah ketegasanku diuji, namun susah memang jika pada dasarnya aku selalu tidak bisa tegas jika dihadapkan dengan situasi seperti ini. Aku tidak tega membangunkannya melihat tidurnya begitu pulas. Teman-teman yang mengolok-oloknya pun tak digubrisnya. Ia tetap melanjutkan tidurnya. Entah sedang bermimpi apa. Ketika selesai menjelaskan materi hari itu, kuberi anak-anak soal latihan. Kupegang bahu anak itu dan dengan kagetnya ia terperanjat bangun. Kuminta ia untuk mencuci wajahnya agar lebih segar dan tidak ngantuk lagi. Setelah kembali kusodorkan lembaran soal yang sama seperti yang aku berikan kepada teman-temannya yang lain. Sebenarnya aku ragu ia akan bisa mengerjakan soal yang kuberikan atau tidak. Bagaimana tidak selama aku menerangkan ia tertidur dan tidak tau apa yang aku jelaskan tadi. Tapi alangkah terkejutnya ketika ia dengan cepat mengerjakan semua soal yang kuberikan tanpa bertanya sama sekali. Ia justru mendahului teman-temannya yang sibuk bercanda dan bertanya ini itu karena walaupun mereka tidak tidur tapi mungkin memang tidak memperhatikan dengan baik. Dan lebih terkejutnya lagi ketika kuperiksa jawabannya benar semua. Dari situlah aku mulai berpikir bahwa anak ini memiliki gaya belajar auditori, meski ia tertidur namun telinganya tetap bisa berfungsi dengan baik.
Anak ini punya potensi, meski ia sering dicap buruk oleh teman-temannya. Ia termasuk kategori anak yang dijauhi oleh teman-temannya karena kebiasaan buruknya yang selalu tidak menjaga kebersihan diri, ia juga selalu mendapatkan hukuman atas pelanggaran-pelanggaran yang dilakukannya. Tapi disisi lain aku merasa ia kesepian, butuh sosok sahabat yang bisa diajak berbagi dengannya. Suatu hari pernah kuajak ia sharing selepas jam pelajaran berakhir. Dan ternyata ia tipe anak yang terbuka jika kita bisa menempatkan diri ketika bersamanya. Belum puas rasanya mempelajari karakternya yang unik, juga karakter anak-anak lainnya yang memang sangat beragam. Semua anak punya potensi. Dan bagaimana kita bisa memunculkan dan mengasah potensi yang ada dalam diri mereka. Mereka adalah bak kertas putih yang bisa kita warnai sesuka hati, entah itu dengan warna yang cerah atau malah gelap sekalipun. Dan kita sebagai guru yang akan mewarnainya. Tekadku dalam hati, akan kuukir prestasi dalam kehidupan mereka. Semangat berjuang, semangat menebar manfaat. Bissmillah..
***

 
Leave a comment

Posted by on October 4, 2012 in Uncategorized

 

Kebersamaan

Kita

Kita datang memenuhi panggilan

Atas kegelisahan dan kebingungan

Tentang anak-anak Indonesia dan pendidikan

Dalam tawa dan canda

Tutur dan sapa

Mata dan kata

Arti dan makna

Kita ada

30 laskar pilihan

Menjadi guru berkarakter dan bertaqwa

Cerdas inspiratif dan amanah

Demi Indonesia tercinta

Kita ada

it’s dedicated to SGI II

 
Leave a comment

Posted by on April 8, 2012 in Meine Liebe

 

Omonganmu berpengaruh tahu..,

Kelemahan diriku adalah mengakui bahwa aku butuh sosok yang bisa menemaniku. Terkadang aku harus menyibukkan diri dalam kelompok tertentu untuk menutupi kelemahan. Dan ketika tahu kesibukanku akan berakhir dalam kelompok tersebut maka aku akan mencari kelompok yang lain.

Sulit rasanya meninggalkan hal-hal yang sudah menjadi rutinitasku, termasuk ke 29 laskar pilihan yang telah memberi warna dalam kehidupan. Dan apakah aku harus berpindah dari satu kelompok ke kelompok yang lain.

Aku menjadi merasa sendiri diantara kalian, sulit kubayangkan, tapi aku merasa sendiri. Aku mencoba menghibur diriku dengan segala kelakuanku. Rasa itu bernama kehilangan. Aku harus melewati masa itu, yang kembali harus kehilangan dan berpisah.

Dalam pencarian jati diri, aku bertekad menaklukan emosi tapi bukan emosi yang menaklukanku. Dan kebahagianku adalah bersama kalian tapi bukan karena kalian aku bahagia.

Maka ketika kau berkata, “omonganmu berpengaruh tahu..,”. Dan aku berkata pada diriku, aku harus membenahi diri dan membersihkan hati. Seringkali aku menemukan tanda-tanda untuk menjadi salah satu kekasihmu, aku sebenarnya iri dengan itu, andai itu aku. Tapi dengan 33 buah biji tasbih yang diberikan kepadaku, semakin aku sadar untuk menjadi kekasihmu maka aku kembali ke niat untuk mencapai tujuanku.

Aku ingin membangun cinta, yang dimulai dengan komitmen dalam hidup, bergairah dalam aktivitas dan intim dalam menciptakan suasana yang menyenangkan. Aku merasa sendiri diantara kalian, karena yang kuinginkan adalah membangun cinta dan pondasi itu adalah kalian serta diriku adalah pemiliknya. Maka apakah kalian membangun cinta untukku, serta menemaniku dalam kehilangan. Maka wajarlah aku menjadi merasa sendiri diantara kalian.

Disiapkan di parung, 9 Pebruari 2011

Tuan pusriza

 
Leave a comment

Posted by on April 8, 2012 in Meine Liebe

 

Mau jadi Guru

“Coba-coba aja ngelamar di bank dulu teh, siapa tau diterima. Gajinya kan gede. Ntar mamah mau bikinin dede rekening biar bisa minta kiriman ke teteh” Celoteh ibu ku sambil tersenyum tanda ia bergurau. Tapi sungguh dibalik gurauan itu justru aku menangkap sekilas raut wajahnya, wajah penuh harapan.

“Masa sarjana pendidikan kerja di Bank mah, ga nyambung ah” Ku tepis candaan itu dengan jawaban sekenanya.

“ya kan ga menutup kemungkinan teh, orang anaknya Bu Yuyun aja lulusan IPB tapi kerjanya di BNI. Padahal kan jurusannya perikanan, lebih ga nyambung mana hayo..” Bantah ibuku tak mau kalah.

“Tapi kan sayang ilmunya mah” kataku

“Iya mamah tau, tapi apa ga sayang juga tuh dapet kuliah cape-cape cuma berakhir jadi guru honorer yang gajinya ga seberapa?” Tersekat rasanya tenggorokan ini mendengar jawaban itu.

Dalam hati aku bertanya “Jika persoalannya jadi guru gajinya kecil kenapa waktu itu mamah setuju aku masuk fakultas keguruan?” Tapi tetap saja pertanyaan itu tak berani ku ungkapkan. Biarlah itu menjadi bahan intropeksi diri.

Tak bisa ku tampik semua yang ibuku katakan. Gaji guru honorer memang tak seberapa saat ini, apalagi di daerahku yang notabene hanya sebuah desa yang baru berkembang menjadi kecamatan.

Aku jadi teringat akan kisah tetanggaku. Ia adalah seorang guru honorer Madrasah Ibtidaiyah yang menurutku cukup loyal terhadap pekerjaannya. Pak Yusuf, seorang bapak berbadan tegap berusia sekitar 40 tahun itu selalu terlihat bersemangat setip hari. Padahal tak ku dapat satupun alasan darinya yang bisa membuatnya begitu bersemangat.

Hampir 20 tahun pria yang memiliki 3 orang anak ini mengabdi di sekolah yang sama. Dan sejak itulah ia selalu menunjukkan totalitas pada profesinya. Mengajar di sebuah sekolah yang tidak terlalu terkenal di daerahku, dengan kondisi fasilitas dan jumlah murid terbatas, swasta pula. Sepertinya dapat ku tebak gajinya dalam sebulan, mungkin lima ratus ribu pun tak akan sampai. Tak sebanding dengan pengorbanannya. Ditambah ia harus membiayai keluarganya.

Sungguh miris membayangkannya. Ditengah keadaan yang semuanya serba mahal, kurasa gajinya tak akan bisa memenuhi semua kebutuhannya sampai waktu gajian berikutnya datang. Kupikir bapak berjanggut ini memiliki kerja sambilan, tapi ternyata tidak. Subhanallah.. sungguh sosok guru yang patut dijadikan teladan. Ditengah situasi seperti ini – guru-guru lain sibuk mengepakkan sayapnya dari satu sekolah ke sekolah lain demi mencari tambahan – ia tetap istiqomah mengabdi di sekolah yang tak banyak memberikannya kesejahteraan hidup.

Pernah suatu ketika – seingatku saat itu baru menginjak semester kedua di bangku perkuliahan – aku bertemu dengannya disebuah angkutan umum berwarna biru yang selalu setia mengantarku ke kampus hijau jika kendaraan roda duaku sedang bermasalah.

Saat itu adalah saat-saat yang tak akan pernah kulupakan. Aku duduk tepat dihadapannya. Ku lihat dengan jelas sosok bapak berkacamata yang dikedua sudut matanya telah berkeriput menyunggingkan senyum tulusnya padaku. Spontan ku balas dengan hal yang sama. Terlontar kalimat pertama yang mengawali percakapan kami.

“Berangkat ngajar pa?” tanyaku basa-basi.

“iya neng, pasti mau kuliah ya? kok ga bawa motor?” tanyanya.

“Motornya lagi sakit pa, hehe..” jawabku.

Setelah itu percakapan kami mengalir seperti air. Satu pertanyaan darinya yang membuatku bak terbangun dari tidur panjang.

“Tujuan kuliah buat apa neng?” Tanpa pikir panjang ku jawab saja

“buat cari kerja yang lebih baik pa”. Dia tersenyum mendengar jawabanku. Kurasa tak ada yang salah dengan jawaban itu. Toh memang itu kenyataannya. Tanpa bersikap menghakimi lalu beliau menimpali jawabanku

“salah neng! Bukan itu jawabannya!”

trus apa dong pa?” tanyaku penasaran.

“untuk mencari ridho allah” jawabnya lugas.

Tersentak ku mendengarnya, jawaban yang sama sekali tidak terlintas dalam benakku. Seraya beristigfar aku mengamini jawabannya. Seakan tersadar dari mimpi, kata-kata itu merasuk hati. Dalam hati ku memuji “Terimakasih ya allah telah kau kirim orang baik untuk menyadarkanku”.

Mulai saat itu aku tahu alasan yang membuatnya selalu tersenyum, masalah seberat apapun kurasa tak kan berarti baginya, karena kuncinya adalah ikhlas. Sebuah kata kunci yang mudah dikatakan namun sulit dilakukan. Ikhlas menjembatani ia untuk mencari ridho Allah, sungguh tujuan yang mulia.

Terinspirasi oleh kesederhanaan dan kesahajaannya, membuatku memindahkan beberapa derajat sudut pandangku dari aslinya. Bukan materi yang harus ku cari, tapi ridho allah swt, yang karena-Nya aku ada.

Tibalah disebuah tempat yang awalnya asing bagiku. Terdapat 30 orang dari daerah yang berbeda berkumpul ditempat yang sama. Para sarjana muda berbakat berusaha mewujudkan impiannya. Menyamakan visi dan misi untuk menjadi pejuang pendidikan. Agak terdengar nekat memang. Berasal dari latar belakang pendidikan yang berbeda dan lulusan dari Universitas ternama, kurasa mereka mampu mencari pekerjaan yang sesuai. Namun sekali lagi kekagumanku seakan tak ada hentinya. Aku saja yang notabene berasal dari pendidikan masih merasa belum mempunyai cukup modal pengetahuan untuk terjun ke dunia pendidikan. Tapi semangat mereka menepis rasa itu. Mereka saja bisa kenapa aku tidak?!

Tempat itu bernama Lembaga Pengembangan Insani. Dari namanya saja sudah dapat kubayangkan orang-orang seperti apa yang akan kuhadapi. Dengan harapan akan ada perubahan yang lebih baik, seraya mengucap bissmillah ku pijakan kakiku di tempat yang penuh tantangan ini. Berlokasi tidak terlalu jauh dari daerah tempat tinggalku, hanya membutuhkan waktu sekitar 1 ½ jam. Memang jarak yang tidak seberapa dan dianggap sepele oleh orang lain karena tak sebanding dengan jarak yang harus di tempuh oleh ke 29 teman yang lain. Tapi ini sesuatu yang luar biasa bagiku. Penuh perjuangan untuk bisa datang ke tempat ini. Besar harapanku jiwa keguruanku akan muncul disini. Bukan sekedar menjadi guru biasa namun guru berkarakter. Akan kubuktikan pada mereka bahwa kebahagiaan tidak hanya dapat diukur dengan kekayaan namun kebahagiaan dapat kita raih disaat kita berhasil menjadi apa yang kita inginkan. Semoga perjalanan ini penuh rahmat dan ridho-nya. Amien..

 
Leave a comment

Posted by on April 8, 2012 in My Life My adventure